.: Selamat Datang di Blog kami :.

Blog ini berisi resume mata kuliah kami. silahkan ambil jika berguna dan ada manfaatnya, terima kasih
0

Arti dan Sejarah Ilmu Logika


A. Landasan Teori

Kata “logika” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, biasanya dalam arti “menurut akal”, seperti kalau orang berkata “langkah yang diambilnya itu logis” atau “menurut logikanya ia harus marah”. Akan tetapi logika sebagai istilah berarti metode atau tehnik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran, maka untuk memahami apakah logika itu? Orang harus mempunyai pengertian yang jelas tentang arti ilmu logika. Selain itu, untuk mendapatkan kejelasan tentang asal mula logika itu sendiri diperlukan pengetahuan tentang sejarah munculnya ilmu logika yang tidak dapat dilepaskan dari upaya para ahli pikir Yunani.

Ilmu logika sangat diperlukan dalam kehidupan sehar-hari karena logika mempunyai banyak manfaat, diantaranya : dapat membuat orang mampu membedakan berfikir yang benar dan terhindar dari kesimpulan yang salah. Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dalam penerapan ilmu logika, diperlukan pengetahuan tentang pembagian ilmu logika yang menurut The Liang Gie(1980) logika terbagi menjadi lima bagian1 : logika makna luas dan sempit, logika deduktif dan indukti, logika formal dan material, logika murni dan terapan, logika filsafati dan logika matematik.

B. Arti Logika

logika berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Logos (perkataan atau sabda), istilah lain yang digunakan adalah ilmu mantiq (kata Arab) yang diambil dari kata kerja “nataqo” yang berarti berkata. Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan yang serupa seperti ucapan seseorang “alasannya tidak logis” dan sebaginya. Yang dimaksud dengan logis adalah masuk akal dan sebaliknya tidak logis berarti tidak masuk akal. Dalam buku Logic and lagoange of ducation, mantiq disebut sebagai penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berfikir yang benar. Sedangkan dalam kamus

Munjid disebut sebagai “hukum yang memelihara hati nurani seseorang dari kesalahan dalam berfikir”. Prof. Thaib Thahir a. Mu’tin membatasi dengan “ilmu untuk menggerakkan pikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh suatu kebenaran”. Sedangkan menurut Irving M. mengatakan “logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang salah

Kata logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium, kaum Shopis, Socrates dan Plato harus dicatat sebagai perintis lahirnya ilmu logika. Ilmu logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, theoprostos dan kaum stoa.

Aristoteles meninggalkan enam buku yang oleh murid-muridnya diberi nama “Organom”. Buku tersebut antara lain categoriae (mengenai pengertian-pengertian), De Interpretatiae (mengenai keputusan-keputusan), analitica priora (tentang silogisme), analitica posteriroa (mengenai pembuktian), topika (mengenai perdebatan) dan De Sophisticis Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berfikir)2.

C. Sejarah Logika

Awal mula lahirnya ilmu logika tidak lepas dari pemikiran para ahli Yunani. Ahli pikir yang mempelopori logika adalah Aristoteles (304-322 SM) yang termasuk guru terbesar di dunia sampai dengan saat ini3. Buah tangan Aristoteles bukan hanya dalam ilmu logika tetapi juga dalam berbagai ilmu baik ilmu sosial maupun ilmu alam. Perkembangan ilmu logika setelah masa Aristoteles banyak dilanjutkan oleh para muridnya yang diantaranya adalah Theoprastos dan Porphyrius.

Disamping jasa para muridnya tersebut, perkembangan logika mengalami suatu kendala. Pada tahun 325 M telah berlangsung sidang gereja pertama di dunia yaitu di Micae yang salah satu keputusan yang diambil adalah membatasi pelajaran ilmu logika antara yang boleh dan yang di larang. Dengan adanya larangan tersebut, buku logika yang terlarang di terjemahkan oleh Boethius (480-524 M ) ke dalam bahasa latin yang akhirnya Boethius di hukum mati. Sejak saat itulah pelajaran logika di barat mengalami kematian pemikiran.

Perkembangan ilmu logika pada zaman Islam berawal pada abad ke – 7 didaerah Arab. Logika dipelajari secara meriah dalam kalangan luas setelah adanya penerjemahan ilmu-ilmu yunani kedalam dunia arab pada abad II Hijriah. Dalam hal ini timbullah berbagai pendapat dikalangan para ulama’. Ibnu Salih dan imam nawawi menghukumi haram mempelajari ilmu logika sampai mendalam dan Al-Ghozali menganjurkan dan menganggap baik. Sedangkan jumhurul ulama’ membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya4. Dalam hal ini muncullah pemikir-pemikir handal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghozali, dan lain-lain. Dan dalam buku filsafat islam ada tokoh islam yang bernama Ikhwan Al-Syafa’ yang juga menganggap penting ilmu logika , beliau mengatakan bahwa mengenai lapangan filsafat itu ada empat macam, yaitu matematika, logika, fisika, dan ilmu ketuhanan. Ilmu logika disalin kedalam bahasa Arab dengan nama “Ilmu Mantiq” yang berasal dari kata “Nathaqo” yang berarti berfikir. Penyalinan pertama dilakukan oleh Yohana bin Patrik (815 M) lalu disusul oleh para penulis lainnya.

Penyalinan istilah-istilah logika kedalam bahasa Arab masih belum sempurna, kemudian disempurnakan oleh Al-Farabi yang tidak mengalami perubahan sampai sekarang yang tercatat dalam ke empat bukunya, yaitu :

- Kutubul Manthiqil Tsamaniya

- Nuqaddamat Isaguji Allati Wadha “Aha”

- Risalat Fil Qiyasih

- Risalat Fil Mantiqi

Pada abad XIII sampai dengan abad XV muncullah logika modern yang berbeda sekali dengan metode Aristoteles. Dan pada abad XIX logika di pandang sebagai sekedar peristiwa psikologis dan metodis.

D. Pembagian Ilmu Logika

Menurut The Liang Gie (1980), logika dapat digolongkan menjadi lima macam yaitu :

1. logika makna luas dan logika makna sempit

Logika dalam arti sempit searti dengan logika deduktif, sedangkan logika dalam arti yang lebih luas, pemakaiannya mencakup kesimpulan dari berbagai bukti dan bagaimana sistem-sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam serta meliputi pembahasan mengenai logika itu sendiri.

2. logika deduktif dan logika induktif

logika deduktif merupakan suatu penalaran yang menurunkan kesimpulan sebagai keharusan dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut bentuknya saja, sedangkan logika induktif mempelajari asas penalaran yang betul dari sejumlah sesuatu yang khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifaat “boleh jadi”5.

3. logika formal dan logika material

logika formal mempelajari asas, aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus di taati untuk mencapai suatu kebenaran, sedangkan logika material mempelajari langsung pekerjaan akal serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan yang sesungguhnya.

4. logika murni dan logika terapan

logika murni merupakan suatu pengetahuan mengenai asas dan aturan logika yang berlaku umum pada semua segi dan bagian dari pernyataan tanpa mempersoalkan arti khusus dalam suatu cabang ilmu dari istilah yang dipakai dalam pernyataan yang dimkasud. Adapun logika terapan merupakan pengetahuan logika yang diterapkan dalam setiap cabang ilmu, filsafat dan dalam pembicaraan sehari-hari.

5. logika filsafati dan logika matematik

logika filsafati merupakan bagian logika yang masih berhubungan erat dengan pembahasan dibidang flsafat misalnya : logika kewajiban dengan etika atau logika arti dengan metafisika. Adapun logika matematik merupakan suatu ragam logika yang menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan metode matematik serta bentuk lambang yang khusus dan cermat untuk menghindari makna ganda yang terdapat dalam bahasa sehari-hari.

E. Fungsi dan Manfaat Ilmu Logika

Dengan belajar ilmu logika kita dapat mengambil beberapa fungsi, diantaranya : membantu setiap orang untuk berfikir secara rasional, kritis, tepat dan tertib, selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan berfikir secara cermat, obyektif, tajam dan mandiri.

Disamping ada beberapa fungsi tadi, ilmu logika juga memberikan manfaat teoretis dan praktis. Dari segi teoretis logika dapat mengajarkan tentang berfikir yang seharusnya bukan membicarakan tentang berfikir sebagaimana adanya dalam ilmu-ilmu positif (fisika, psikologi dan sebagainya). Dari segi praktis logika dapat menjadikan akal semakin tajam dan kritis dalam imajinasi logis. Manfaat yang paling asasi dalam mempelajari ilmu logika adalah dapat membuat orang mampu membedakan berfikir yang benar dan dapat menghasilkan kesimpulan yang benar dan terhindar dari kesimpulan yang salah.

F. Analisi Kritis.

Kebenaran logika terbatas pada akal sedangkan akal terpaku atas panca indera sehingga tidak sedikit orang yang terjebak pada hal tersebut. Dengan demikian perlu adanya pemahaman yang lebih mendalam tentang ilmu logika.

Menurut penulis, selain belajar ilmu logika, sebagai seorang muslim kita perlu mempelajari dasar-dasar aqidah (Al Qur’an dan Hadits) secara matang terlebih dahulu agar terhindar dari kekhawatiran adanya suatu kesalahpahaman, karena ilmu logika berhubungan dengan akal pikiran kita yang mana dalam akidah Islam terdapat sesuatu hal yang ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal kita.


DAFTAR PUSTAKA

http:/ / www.total.or.id/info.php?kk=logika

Mundiri, Logika, (Jakarta : PT Royo Grafindo Persada, 2005)

Mustofa, Filsafat islam, (Bandung : CV.Pustaka Setia)

Salam Burhanuddin, Logika Ilmu Mantiq, (Jakarta : PT Melton Putra, 1988 )

Soekagijo, Logika Dasar, (Jakarta : PT Gramedia,1983)

Sou’yb joesoef, Logika Kaidah Berfikir Secara Tepat, (Jakarta : PT Al-Husna Zikra, 2001)

Surajioyo dkk, Dasar-Dasar Logika, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), Ce t. 1

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to Top